Sabtu, 12 April 2014

Mengerti Tanpa Memahami

Terkadang..
Ada kesedihan dibalik senyum yang kau lihat.
Ada tangisan dibalik tawa yang kau dengar.
Ada kisah lain dibalik cerita buruk yang kau tahu.
Asa sisi lain dibalik sisi buruk yang tak kau sukai.
Tau kah kau dengan itu semua?
Terkadang kita hanya bisa menilai tanpa memahami..
Bisa saja, suatu hari nanti,
Orang yang kau benci
Orang yang tak pernah kau hargai
Orang yang kau anggap menyebalkan
Orang yang mengganggumu
Orang yang membuatmu merasa risih
Adalah orang yang selalu membawa namamu dalam setiap doanya? 
Tahukah kau tak ada yang lebih indah dari orang yang mendoakan seseorang yang telah menyakitinya? 
Dan mungkin bisa saja,
Orang itu adalah orang yang benar-benar akan tulus menolongmu ketika orang yang kau anggap baik telah pergi.
Dan pada saat itu juga, 
Kau akan menyadari..
Tidak selamanya orang yang kau anggap buruk, benar-benar buruk begitu pula sebaliknya :)

Datang Untuk Mengundang Luka

Aku ingin menghempaskan rasa sakit ini
Ku ingin membebaskannya
Aku tak mau selamanya mengurungnya
Disini,
Di dada ini.
Aku tak ingin terus-terusan menahan rasa kecewa
Aku lelah dijatuhkan
Aku ingin bangkit!
Bangkit dari semua air mata
Air mata yang terus-terusan menyiksa batinku
Tuhan,
Andai aku dapat meminta
Aku ingin dia yang bisa membuatku tersenyum kembali
Mencairkan hati yang telah beku.
Membuatku melupakan semua rasa sakit yang pernah ada.
Luka yang pernah dihadirkan.
Meski itu pun karenanya.
Tuhan,
Mengapa engkau hadirkan
Seseorang yang datang hanya untuk pergi lagi.
Kau datang, lalu kau pergi.
Kau hadir, lalu kau menghilang.
Kau bawa suka, lalu kau hadirkan duka.
Kau lahirkan cinta, lalu kau matikan rasa.
Kapan aku bisa melukiskan kembali senyuman indah diwajahku
Ku ingin kembali menulis cerita hidupku
Ku ingin kembali mengukir nama kebahagiaan dihatiku
Aku tak ingin jatuh lagi.
Aku tak ingin harapan-harapan itu lagi.

Aku Sendiri

Ku berjalan disebuah lorong yang gelap, Ku berjalan sendiri
Menyusuri lorong yang entah berujung kemana
Mengapa kau datang hanya untuk membawa luka
Ku berjalan menyusuri gurun yang tak bertitik
Kosong
Mengapa kau datang hanya untuk melukiskan kepedihan
Ku berjalan disebuah hamparan salju
Dingin
Menyusuri hal yang mematikan
Mengapa kau datang hanya untuk memberikan kenangan
Ku berjalan menyusuri lautan
Luas
Tapi mustahil
Karena aku akan tenggelam
Sama halnya dengan menyusuri kehidupanmu
Luas
Tapi aku tak tahu, aku kebingungan.
Aku berjalan sendiri, aku berjuang sendiri.
Bagaikan aku berjalan dilautan
Walau aku terus berusaha,
Aku terus berjuang
Tapi itu perbuatan yang sia sia
Perjuangan yang tidak ada artinya
Sama halnya dg memperjuangkanmu
Yang nantinya hanya akan membuatku tenggelam
Dengan rasa sakit yg menyiksa
Karena aku hanya sendiri
Aku tak memiliki tumpuan untuk berdiri
Tanpa tumpuan untuk mendayung
Aku sendiri
Berjuang sendiri

Sosok Seperti Apa?

Andaikan engkau tau
Buat apa engkau sibuk mencari cari sosok yang sempurna
Jika yang tuluspun bisa membuatmu bahagia
Buat apa engkau sibuk mencari kebahagiaan
Jika yang sederhanapun bisa membuatmu terlengkapi
Kau sibuk mencari hal yang tercukupi oleh fisik
Namun, sadarkah engkau bahwa kau telah melewatkan satu kebahagiaan yang mungkin bisa membuatmu utuh?
Tidak.
Kau hanya mementingkan kebahagiaan sesaatmu saja.
Karna kau tak pernah sadar disini selalu ada yang selalu setia
Selalu menanti
Selalu memperhatikanmu
Dalam kejauhan
Dalam doa
Dalam doa aku selalu berharap Tuhan memberikanmu kebahagiaan
Kebahagiaan yang utuh
Semoga kelak kau akan dapatkan seseorang itu
Seseorang yang mungkin bisa membuatmu tersenyum setiap saat
Seseorang yang selalu memperhatikanmu
Seseorang yang selalu mengingatmu dalam doanya
Seseorang yang selalu mendukungmu dalam situasi apapun
Semoga Tuhan menjawabnya..

Tentang Hidup Atau Harapan

Harapan itu..
Ibarat balon gas yang diterbangkan
Pergi entah kemana
Akan membawa bahagia atau luka,
siapa yang tahu?
Terbang, terhempas, mencari arah tujuan..
Mencari tujuan berlabuh.
Aku tahu rencana Tuhan tak pernah pasti,
terombang-ambing. Bagaikan kapal di lautan lepas.
Luas.
Tapi tak bertitik.
Ku menangis tanpa air mata. Tak ada satupun yang mendenger rintihanku.
Ku tersenyum tanpa makna. Tak ada satupun yang memahaminya.
Ku tertawa tanpa bersuara. Tak ada yang mengerti.
Ku berharap tanpa alasan. Tak ada satupun yang ingin menjadi alasan.
Karna tak ada satupun,
Yang ingin mendenger rintihanku.
Yang ingin memahamiku.
Yang ingin mengertiku.
Yang ingin menjadi alasanku.
Harapan tetaplah harapan.
Aku tahu tak ada kisah yang tanpa senyuman.
Aku pun tahu tak ada kisah yang tanpa rasa sakit
Tapi aku hanya ingin menimbun semua rasa sakit dengan sebuah senyuman.
Dengan sebuah harapan baru
Karena aku tahu, disetiap rasa sakit pasti akan muncul kebahagiaan baru. 
Entah kebahagiaan atau rasa sakit lagi.
Lagi-lagi, siapa yang tahu kan?
Tapi satu yang harus aku yakin, jika ada sebuah air mata menetes,
Pasti Tuhan akan membalasnya dengan seribu simpul kebahagiaan
Hidup akan terus berjalan..
Tak perduli seberapa rasa sakitku
Tak perduli seberapa kejamnya,
Tapi hidup akan terus mengalir..
Bagai air sungai yang mencari induknya.
Yang nanti akan menuju kepusatnya
Yaitu lautan.
Sama halnya dengan kita, yang akan kembali pada asalnya pula..

Ku Ingin Cahaya Itu Kembali

Enam puluh detik berlalu, kini bergilir menjadi menit. Enam puluh menit kurasa, kini menjadi jam. Dua puluh empat jam berlalu kini matahari telah hilang. Berubah menjadi gelap yang hampa. "Tak ada cahaya kecil itu malam ini" lalu ku ingat, andai kamu tetaplah kamu. Andai cahaya kecilku tetaplah kamu. Cahaya kecil dimalam hari, namun kehangatanmu bagaikan matahari untukku. Keindahanmu dimalam hari bagaikan keindahan penuh dihidupku. Kau beri cahaya, kau beri warna. Tapi kini kau telah menghilang, telah redup, telah sirna. Kuingin cahaya itu kembali..

Aku Rindu Padamu

Disini, aku sedang duduk sendiri
Termenung meratapi kesedihanku, semakin hari semakin terasa menyiksa.
Rasa sakit yang tak kunjung usai, kucoba mencari ujung, tapi bagaikan aku mengarungi samudera. Tak berujung. Bagaikan aku menyusuri bumi. Tak bertitik.
Selalu kurasa kesepian, ku rindu wajahmu. 
Si pemilik bola mata dan senyum misterius itu. 
Semakin hari, semakin ku rindu. Sungguh, kuingin mengubah jalan fikir otakku. Seakan-akan ku sedang berada diujung lelahku.
Tapi selalu saja ku yang menyerah, aku tak bisa berdusta. Mungkin lidahku bisa menyangkalnya. Namun hatiku? 
Meski lidahku berkata kupungkiri aku merindunya, tapi kini kutepis kemunafikkanku, aku rindu padamu..