Termenung meratapi kesedihanku, semakin hari semakin terasa menyiksa.
Rasa sakit yang tak kunjung usai, kucoba mencari ujung, tapi bagaikan aku mengarungi samudera. Tak berujung. Bagaikan aku menyusuri bumi. Tak bertitik.
Selalu kurasa kesepian, ku rindu wajahmu.
Si pemilik bola mata dan senyum misterius itu.
Semakin hari, semakin ku rindu. Sungguh, kuingin mengubah jalan fikir otakku. Seakan-akan ku sedang berada diujung lelahku.
Tapi selalu saja ku yang menyerah, aku tak bisa berdusta. Mungkin lidahku bisa menyangkalnya. Namun hatiku?
Meski lidahku berkata kupungkiri aku merindunya, tapi kini kutepis kemunafikkanku, aku rindu padamu..
Tidak ada komentar:
Posting Komentar